Karakter bangsa yang qur’ani dilahirkan dari pendidikan yang berkarakter qur’ani pula. Oleh sebab itu, negara harus memberikan ruang gerak pendidikan agama lebih luas dalam undang-undang dan kurikulum nasional. Sebab, memang sudah menjadi sebuah fakta bahwa anak didik di Indonesia lebih banyak menempa pendidikan di pendidikan umum dibandingkan dengan pendidikan agama seperti pesantren atau madrasah.

Pendidikan karakter telah lama menjadi bagian inti dari sejarah pendidikan itu sendiri. Pendekatan idealis dalam masyarakat modern memuncak dalam ide tentang kesadaran. Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme oleh filsuf Prancis Auguste Comte. Foerster menolak gagasan yang merendahkan pengalaman manusia pada bentuk murni hidup alamiah. Dalam sejarah perkembangannya memang manusia tunduk pada hukum-hukum alami, namun kebebasan yang dimiliki manusia memungkinkan manusia untuk menghayati kebebasan dan pertumbuhannya mengatasi tuntutan fisik dan psikis semata. Manusia tidak semata-mata taat pada aturan yang sifatnya mengatasi individu, dalam tata aturan nilai-nilai moral. Pedoman nilai merupakan kriteria yang menentukan kualitas tindakan manusia di dunia. Dinamika pemahaman pendidikan karakter berproses melalui tiga momen, yaitu historis, reflektif, dan praktis. Momen historis yaitu usaha merefleksikan pengalaman umat manusia yang bergulat dalam menghidupi konsep dan praksis pendidikan khususnya dalam jatuh bangun mengembangkan pendidikan karakter bagi anak didik sesuai dengan konteks zamannya. Momen reflektif, yaitu sebuah momen yang melalui pemahaman intelektualnya, mencoba melihat persoalan metodologis, filosofis, dan prinsipil yang berlaku bagi pendidikan karakter. Dan yang terakhir momen praktis, yaitu dengan bekal pemahaman teoritis-konseptual itu, manusia mencoba menemukan secara efektif agar proyek pendidikan karakter dapat efektif terlaksana di lapangan.

Sementara jika dilihat dari paradigma Islam maka pendidikan karakter sebenarnya adalah bagian dari pendidikan akhlaq akan tetapi ia begitu booming seolah mengalahkan ketenaran pendidikan akhlaq itu sendiri saat ini. Kita melihat bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan untuk meninggikan marwah bangsa diantara bangsa-bangsa lainnya, akan tetapi marwah bangsa yang mulia adalah bangsa yang mana masyarakatnya memiliki keseimbangan kehidupan antara ruhani dan jasmani, dunia dan akhirat tanpa ada ketimpangan. Pendidikan Barat yang hanya menumpukan pada aspek keterampilan saja saat ini mulai mengikuti arus spiritual karena produk pendidikan sebelumnya menghilangkan arah kehidupan yang sebenarnya mereka idam-idamkan. Banyak para orang kaya yang akhirnya stress berat, para pengusaha kelas atas yang merasa jenuh dengan kehidupannya karena tidak menemukan kebahagian yang sesungguhnya. Oleh sebab itu Islam menawarkan solusi untuk keseimbangan kehidupan itu melalui sumber utama yang sempurna yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw, sebab Islam telah membuktikan akan kecermerlangan ‘Madinah al-Munawwarah’ dengan al-Qur’an dan Sunnah sebagai parameter negara. Oleh sebab itu pendidikan karakter mesti harus berlandas pada sumber tersebut sehingga bermunculanlah ‘Manusia-manusia Qur’ani’ yang mampu beradaptasi dan berdialog dengan zaman tanpa menanggalkan identitas ketauhidannya.

Pendidikan diambil dari kata ‘didik’ yang dibubuhi dengan awalan ‘pe’ dan akhiran ‘an’ yang berarti ‘memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran’, sementara pendidikan yaitu ‘proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.