Momen Perpisahan Angkatan #4 JOS GANDOS

Oleh: Listya Kurnia, S.Pd.

…..Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada
Bertemu akan berpisah
Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut
Bertemu akan berpisah…..

Bait lagu “Sampai Jumpa” dari Endank Soekamti di atas mengawali perjalanan momen perpisahan angkatan #4. Setelah perjalanan yang tidak panjang, tetapi tidak pula bisa dikatakan singkat (baca: tiga tahun), sampailah angkatan ini pada ujung pemberhentiannya di SMP Model Ar Riyadh Insan Cendekia. Angkatan yang dikomandoi oleh Ustazah Ratna, Ustazah Nova, Ustazah Dini, dan Ustazah Zira ini memiliki empat puluh sembilan personel, yakni Gilang, Afif, Alice, Annisa, Andri, Chelsea, Cyra, EK, Ari, Hanif, Khansa, Kharisma, Iyut, Fyo, Alif, Rendy, Nabila, Ditha, Nafis, Rifqi, Syifa, Ulfah, Yustifa, Zhara, Hafidz, Fifi, Alma, Alvira, Manda, Furqon, Balqis, Elma, Esper, Faiq, Fandi, Fariidah, Laura, Inka, Raja, Karin, Muthia, Thariq, Ivan, Naufal, Rakha, Naya, Riza, Salma, dan Yani.

Sejak Desember 2018, lokasi perpisahan sudah digulirkan mulai dari Bandung hingga Malang. Disepakatilah tempat pertengahan antara Bandung dan Malang, yakni Semarang-Jogja. Momen perpisahan ini dilaksanakan tepat setelah siswa selesai melaksanakan Ujian Nasional pada 25 s.d. 28 April 2019. Di dalam perjalanannya, ada momen yang sangat menyedihkan menyelimuti angkatan #4. Kenapa? Sama seperti penggalan bait lagu di atas, yakni ‘ada kan tiada’, Manda passed way (Al-fatihah).

Perjalanan ini dimulai dari SMP Model Ar Riyadh Insan Cendekia menuju Stasiun Bekasi menggunakan Bus Trans Patriot. Sebagian merasa antusias karena ini kali pertama siswa menaiki Trans Jakarta. Sesampainya di Stasiun Bekasi, siswa menunggu di ruang tunggu sambil bersenda gurau. Tibalah pada waktu menunjukkan pukul 23.15 WIB, Kereta Tawang Jaya tiba. Siswa mendapatkan kursi pada gerbong sembilan. Malam itu terasa tak terlalu panjang hingga subuh menjelang dan siswa bersiap shalat subuh di kereta dan mempersiapkan barang untuk turun karena kereta akan tiba  di Semarang pukul 06.15 WIB.

Sesampainya di Stasiun Poncol, siswa bergegas menuju bus untuk sarapan dan berangkat menuju destinasi selanjutnya, Museum Kereta Api Ambarawa. Museum ini merupakan sebuah stasiun kereta pada zaman kolonial Belanda yang dijadikan sebagai pangkalan militer bagi pemerintahan Belanda. Di sana terdapat model kereta api uap zaman dahulu.

Destinasi selanjutnya adalah Merapi. Di sana siswa diajak berkeliling ke beberapa tempat di sekitar Gunung Merapi yang agak terjal dan berbatu menggunakan jeep, dan menggunakan helm, serta masker tentunya. Pertama, Museum Mini Sisa Hartaku. Museum ini merupakan salah satu rumah warga yang terkena dampak letusan Gunung Merapi, rumahnya dijadikan museum untuk benda-benda pasca letusan seperti televisi yang hampir meleleh, tulang belulang hewan ternak, piring, hingga benda-benda pusaka yang di dalamnya terdapat makhluk tidak kasat mata. Kedua, batu alien. Batu alien ini bukanlah batu yang berasal dari luar angkasa, melainkan batu yang menyerupai wajah manusia dan terbentuk dari lava gunung merapi saat erupsi Merapi pada 2010. Awalnya, warga menyebut batu ini sebagai batu alian (pindah), tetapi diplesetkan menjadi alien. Ketiga, Bunker Kaliadem. Bunker ini digunakan sebagai tempat berlindung bagi warga Kaliadem saat terdesak dengan kondisi Gunung Merapi yang sewaktu-waktu bisa meletus. Namun, bunker ini tidak digunakan karena pada 2006, dua relawan yang berada di dalam bunker ini justru tewas terkena lava Gunung Merapi yang memenuhi bunker. Destinasi Merapi selesai dan selajutnya siswa melanjutkan perjalanan ke Malioboro dan Bakpia Pathok 25.

Hari berikutnya siswa melanjutkan perjalanan menuju tubing rafting. Di tempat ini siswa tidak bisa mengabadikan momen karena memang medan yang tidak memungkinkan. Tempatnya menyenangkan dan mengasyikkan, melepas penat dan bercengkrama dengan alam dan air, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB.

Destinasi terakhir hari itu adalah Gedong Songo, Semarang. Namun sayang, siswa tiba menjelang maghrib sehingga tidak bisa berlama-lama menikmati Bandung-nya Semarang atau Puncak-nya Jakarta ini. Dari informasi yang disampaikan oleh tour guide, Gedong Songo ini didalamnya terdapat 9 candi, dengan 8 candi bisa terlihat oleh mata dan tersebar di beberapa titik, dan 1 candi yang hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki indra ke enam. Perjalanan hari itu berakhir dengan acara bebas di Hotel Terra Cassa, Semarang.

Hari terakhir studi wisata pun tiba. Tempat wisata terakhir yang dikunjungi sebelum kembali ke Bekasi adalah Masjid Agung Semarang atau Masjid Nabawi-nya Semarang. Disebut demikian, karena masjid ini memiliki tenda atau payung di pelataran masjidnya seperti Masjid Nabawi. Di masjid ini, siswa melaksanakan sholat dhuha sebelum menuju Stasiun Poncol dan berangkat menggunakan Kereta Tawang Jaya pukul 13.00 WIB. Siswa sampai di Bekasi sekitar pukul 19.45 dan menuju sekolah menggunakan Trans Patriot.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *